Rabu, 11 Mei 2011

F-33


Model jet tempur siluman KF-X. (Foto: emile)

F-33 (sebelumnya KF-X)
 Tipe Pesawat tempur multifungsi
 Produsen KAI dan Dirgantara Indonesia
 Diperkenalkan direncanakan 2020
 Status Dalam pengembangan
 Pengguna Korea Selatan dan Indonesia
F-33 (sebelumnya KF-X) adalah sebuah program Korea Selatan dan Indonesia untuk mengembangkan pesawat tempur multi-fungsi canggih untuk Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) dan Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Udara (TNI-AU)[1], program ini dipelopori oleh Korea Selatan dengan Indonesia sebagai mitra utama. Negara-negara lain seperti Turki telah menunjukkan minat dalam kerjasama pengembangan dan produksi pesawat. Ini adalah program pengembangan pesawat tempur kedua Korea Selatan setelah KAI FA-50.
Proyek ini pertama kali diumumkan oleh Presiden Korea Selatan Kim Dae-Jung pada upacara wisuda di Akademi Angkatan Udara pada Maret 2001. Meskipun persyaratan operasional awal untuk program KF-X seperti yang dinyatakan oleh ADD (Badan Pengembangan Pertahanan) adalah untuk mengembangkan pesawat ber kursi-tunggal, ber mesin jet kembar dan dengan kemampuan siluman (stealth) yang lebih baik dibanding Dassault Rafale atau Eurofighter Typhoon, tapi masih kurang stealth dibanding Lockheed Martin F-35 Lightning II, fokus dari program tersebut telah bergeser untuk memproduksi pesawat tempur dengan kemampuan lebih tinggi dari pesawat tempur kelas KF-16 pada tahun 2020. [2][3]

Spesifikasi

  • Kru: 1
  • Daya dorong : sekitar 50,000 ;lbf
  • Avionik
    • Kemampuan Datalink
    • Radar AESA
    • IRST
  • RCS = dibawah 0.1 m2

SUMBER WIKIPEDIA

RI-KORSEL BUAT JET TEMPUR KFX 201 STEALTH

Komisioner DAPA Byun berjabat tangan dengan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Samsuddin setelah penandatanganan LoI (Letter of Intent) pengembangan bersama jet tempur, disaksikan kedua kepala pemerintahan Indonesia – Korea Selatan, Maret 2010 di Seoul. (Foto: DAPA)

16 Juli 2010, Seoul -- Indonesia sepakat bergabung dalam proyek pengembangan jet tempur KF-X,Korea Selatan (Korsel), yang tertunda selama beberapa tahun akibat masalah teknis dan pendanaan.

Kedua negara juga sepakat untuk bekerja sama dalam produksi dan pemasaran jet tempur tersebut. “Indonesia akan memperoleh sekitar 50 jet tempur KF-X dengan menanggung 20% biaya pengembangan proyek bernilai miliaran dolar AS itu,” ungkap Kementerian Pertahanan Korsel dalam rilisnya. Kesepakatan itu ditandatangani di Seoul oleh Komisioner Kementerian Pertahanan Korsel dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pertahanan (Kemhan) Indonesia Marsekal Madya TNI Erris Herryanto kemarin.Menurut Juru Bicara Kementerian Pertahanan Korsel,proyek ini akan kembali dimulai awal tahun depan. Adapun produksi jet-jet tempur baru dilakukan setelah studi kelayakan rampung pada akhir 2012.

Model jet tempur siluman KF-X. (Foto: emile)

“Kami juga memerlukan mitra asing yang akan mentransfer teknologi dan suku cadang utama jet tempur tersebut,” ujarnya tanpa menyebutkan total dana yang diperlukan. Proyek jet tempur KF-X sebenarnya sudah diluncurkan tahun 2000,tapi ditangguhkan karena masalah teknis dan ekonomi.Presiden Lee Myung-bak pada Januari lalu setuju untuk mendorong proyek tersebut di tengah meningkatnya ketegangan antara Korsel dan Korut. Kementerian Pertahanan RI membenarkan kerja sama dengan Korsel dalam memproduksi pesawat tempur KF-X.Pemerintah Indonesia bisa menggunakan fasilitas milik PT Dirgantara Indonesia.

“Kami tidak hanya membeli pesawat tempur, tetapi juga ingin bekerja sama dalam produksinya.Kami berharap fasilitas milik PT Dirgantara Indonesia bisa digunakan untuk hal itu,”kata Juru Bicara Kemhan BrigjenTNI I Wayan Midhio. I Wayan mengatakan KF-X adalah pesawat tempur jenis baru yang memiliki kemampuan tempur andal. Bahkan.Wayan berani mengklaim kemampuan KF-X ini di atas F-16, tapi masih di bawah F-35.Wayan mengakui pemerintah berencana membeli 50 buah KF-X begitu pesawat selesai diproduksi.Tidak hanya membeli, pemerintah juga membantu memasarkan pesawat itu ke negara-negara lain.

“Saya kira, prinsip yang paling utama adalah sekarang negara kita bisa ikut terlibat dalam proses produksinya,jadi ada transfer teknologi,”tuturnya. Juru Bicara TNI Angkatan Udara Laksamana Pertama Bambang Samudro menyatakan kerja sama produksi pesawat tempur dengan Korsel ini adalah bagian dari rencana kedua pihak untuk meningkatkan kemampuan dalam memproduksi pesawat tempur.“Ini adalah kerja sama jangka panjang kedua negara.Kesepakatan ini dicapai setelah melalui pembicaraan panjang,”tuturnya.

Kerja sama produksi pesawat tempur ini, lanjut Bambang,dimulai tahun ini sementara segala persiapan seperti survei dan membuat prototipe akan dilakukan hingga 10 tahun ke depan.Bambang menambahkan, TNI AU akan memakai semua pesawat itu jika pemerintah membelinya.“Yang paling utama, kita tidak hanya membeli, tetapi kita bisa membuat sendiri peralatan tempur kita sebagaimana yang pemerintah inginkan,”katanya. Sekjen Kemhan Marsekal Madya Erris Herryanto sebelumnya mengatakan Indonesia layak untuk berpartner membuat pesawat tempur.Menurut dia,langkah kerja sama dengan Korsel merupakan suatu kemajuan karena tidak banyak negara yang bisa membuat pesawat tempur.


Apabila memiliki pabrik pesawat tempur, Indonesia tidak akan bergantung lagi kepada negara lain. Namun Erris saat itu belum bisa merinci beberapa hal yang tertuang dalam perjanjian itu,termasuk apa saja yang akan diperoleh Indonesia dan apa saja yang harus disediakan. ”Yang jelas, kita punya PT Dirgantara Indonesia dan tenaga ahli,”kata Erris. Dia juga mengungkapkan, spesifikasi pesawat tempur KF-X ini kira-kira berada di atas F-16,tetapi di bawah spesifikasi F-35.Adapun kebutuhan biaya yang diajukan sekitar USD8 miliar dengan jangka waktu kerja hingga tahun 2020.Pada 2020 diharapkan sudah bisa disiapkan lima prototipe.Dari keseluruhan anggaran itu,Indonesia diharapkan menanggung sebesar 20%.

Berdasar informasi yang berkembang, pesawat tempur ini rencananya akan rilis pada 2020 .Rencananya KF-X akan disokong mesin kembar setara dengan kelas General Electric F414 atau SNECMA M88 yang digunakan pada F/A- 18E/F Boeing dan Dassault Rafale. SNECMA menggambarkan M88 sebagai landasan dari keluarga mesin generasi baru. Mitra yang akan dirangkul untuk pengembangan mesin adalah Lockheed Martin yang sebelumnya terlibat dalam desain dan pengembangan pelatih Korea Aerospace T-50 jet supersonik. Proyek KF-X juga akan merangkul sejumlah perusahaan asing. Perusahaan-perusahaan asing akan membayar hingga 30% dari program.

Kepala Tim Pengembangan Sistem Udara Korsel Kolonel AU Dae Yeol-lee sebelumnya mengungkapkan, BAE Systems telah menyatakan minatnya dalam mengembangkan radar, sedangkan Alenia Aeronautica dipercaya untuk memasok senjata utama dari KF-X dan bertanggung jawab pada program neuron kolaboratif untuk mengembangkan teknologi European combat-drone.

SINDO


RI MAMPU PRDUKSI JET TEMPUR KFX 201

Model jet tempur KF-X. (Foto: aviationweek)

17 Juli 2010, Bandung -- PT Dirgantara Indonesia (DI) menyatakan siap membuat pesawat tempur KF-X guna mendukung kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan (Korsel).

Perusahaan dirgantara nasional tersebut memiliki kompetensi untuk membuat pesawat tempur dengan kemampuan di atas rata-rata. “Desain, sumber daya manusia, teknologi, dan quality control kami menyatakan siap,” ujar Kepala Humas PT DI Rakhendi Triyatna kepada wartawan di Bandung kemarin. KesiapanPTDIbukanlahisapan jempol. Rakhendi menyebutkan, antara tahun 1986-1990 saat masih bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN),pihaknya pernah memproduksi tujuh komponen untuk 40 pesawat tempur F-16. Hasilnya excellent,”tandasnya.

Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen TNI I Wayan Midhio mengatakan,RI akan berusaha agar pembuatan KFX dapat dilakukan di Tanah Air, khususnya di PT DI.Dengan demikian, diharapkan Indonesia bisa mendapat transfer teknologi. Namun di mana kepastian pesawat tempur KF-X akan diproduksi, menurut dia,sejauh ini belum dibicarakan. “Kami berharap pesawatnya dapat dibuat di sini (Indonesia). Ini akan dibahas dalam kesepakatan selanjutnya.Kalau yang ditandatangani Pak Erris Herryanto (Sekjen Kemhan) kemarin itu baru perjanjian awal,”ujar I Wayan.

I Wayan menuturkan, nota kesepahaman dengan Korsel berkaitan dengan rencana produksi bersama (joint production), riset hingga terbentuknya prototipe pesawat tempur. Prototipe tersebut dapat diproduksi di Indonesia tahun 2020 oleh PT DI. Lebih jauh dia menjelaskan, Indonesia tidak akan mendapat lisensi dari pesawat KF-X karena rancangan awal dari jet tempur tersebut adalah milik Korsel sepenuhnya. Indonesia dalam hal ini hanya menjadi mitra kerja sama, terutama dalam hal pemasaran. Kendati demikian, dia menjamin Indonesia akan mendapat keuntungan dari kerja sama ini karena dapat menyerap teknologi, sedangkan pihak Korsel dapat memangkas biaya produksi dan terbantu di urusan penjualan produk pesawat tempur.

Dia menambahkan, selain sudah mempunyai kemampuan membuat pesawat, Indonesia dipilih Korsel karena memiliki kedekatan dengan banyak negara berkembang.“ Pasar dari KF-X yang utama adalah negara berkembang dan Indonesia sebagai negara berkembang memiliki banyak kolega dengan negara-negara lain,”katanya. Seperti diberitakan sebelumnya, Kemhan RI meneken kesepakatan dengan Korsel untuk memproduksi dan memasarkan jet tempurKF- Xyang tertunda beberapa tahun karena terbentur masalah teknis dan pendanaan. Kesepakatan bukan hanya menjadi kebanggaan bangsa karena tidak banyak negara yang bisa memproduksi pesawat tempur,tapi juga untuk melepaskan ketergantungan alat utama sistem senjata (alutsista) dari negara lain.


Dalam kesepakatan yang diteken Komisioner Kementerian Pertahanan Korsel dan Sekjen Kemhan RI Marsekal Madya TNI Erris Herryanto, Indonesia akan menanggung 20% biaya dan akan memperoleh 50 pesawat yang mempunyai kemampuan tempur melebih F-16 ini. Sekjen Kemhan Erris Herryanto sebelumnya pernah mengungkapkan, anggaran yang dibutuhkan untuk proyek strategis tersebut sebesar USD8 miliar dengan jangka waktu kerja sama hingga 2020. Selama waktu itu diharapkan sudah bisa disiapkan lima prototipe. Berdasar informasi yang berkembang, KF-X tergolong pesawat tempur generasi baru.

Pesawat single seat bermesin ganda ini adalah jenis pesawat siluman (stealth) yang kemampuannya di atas pesawat Dassault Rafale atau Eurofighter Typhoon, tapi masih di bawah Lokheed Martin F-35.Kemampuan tempurnya juga tidak usah diragukan karena lebih unggul dibandingkan pesawat F-16 Block 60. Untuk mendukung ketersediaan peranti canggih,produksi KF-X akan merangkul sejumlah perusahaan internasional untuk menyediakan sistem radar, data link, desain, mesin jet, teknologi stealth, persenjataan,dan lainnya. Pengamat militer MT Arifin berharap dalam kerja sama pembuatan pesawat KF-X tersebut Indonesia bisa memastikan adanya alih teknologi. Proses alih teknologi dapat terjadi dengan melibatkan PT DI dalam pembuatan KF-X.

Menurutnya, tanpa adanya transfer teknologi, kerja sama yang memakan banyak biaya tersebut akan sia-sia,bahkan mendatangkan kerugian.“Kita harus melihat dulu perjanjiannya seperti apa? Yang terpenting,Indonesia harus mendapatkan transfer ilmu dari adanya kerja sama pembangunan pesawat ini,”ujarnya. Dia pun menilai Indonesia sudah saatnya memproduksi sendiri materi keperluan pertahanan dan keamanan.Jika ilmuwan Tanah Air mampu dengan optimal menyerap teknologi dari Korsel, hal itu dinilainya sebagai perkembangan yang luar biasa.Selama ini Indonesia masih banyak membeli senjata, pesawat,dan kapal dari luar. “PT DI memang begitu bagus di era Habibie. Namun setelah itu banyak ilmuwan terbaik kita yang lebih memilih bekerja di Singapura dan negara-negara lain.

Ini bisa menjadi momentum yang bagus untuk PT DI,”imbuhnya. Selain harus terdapat alih teknologi, menurut Arifin,ada satu lagi syarat yang mesti diperhatikan Indonesia dalam perjanjian ini,yakni harus tetap menjaga netralitasnya di dunia internasional. Dia berharap Indonesia jangan sampai terpicu untuk mengikuti paham atau blok yang tengah berkonflik. Sementara itu,anggota Komisi I DPR RI Sidarta Danusubroto mengaku pihaknya sama sekali belum mendengar rencana kerja sama Indonesia dengan Korsel untuk membuat pesawat tempur. Karena itu, Komisi I DPR akan meminta keterangan pemerintah,terutama Kemhan, tentang tujuan dan latar belakang kerja sama tersebut. “Saya baru mendengar ini.

Apakah ini berupa MoU atau malah baru sekadar wacana? Seharusnya kami diajak rembuk dulu dong.Kalau tidak diajak rembuk,mana kita tahu apakah ini bisa bermanfaat atau tidak? Sebab prinsipnya, setiap kerja sama yang akan dilakukan harus memberi manfaat bagi kita.Termasuk dalam pengadaan pesawat maupun dalam penguatan kemampuan personel,”katanya. Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu mengingatkan agar pemerintah lebih berhatihati dalam membuat kebijakan kerja sama dengan luar negeri.

Selain itu,pemerintah harus menjelaskan sumber dana yang akan dipakai untuk membiayai program kerja sama tersebut.Sebab,lanjut dia,masalah biaya menjadi pertanyaan mendasar karena bisa menjadi pemborosan anggaran jika sasaran yang dicari tidak bernilai signifikan. “Kalau ada kerja sama begini, harus jelas juga anggarannya dari mana? Siapa yang membiayai? Jangan seperti sebelum-sebelumnya yang tahu-tahu sudah terjadi baru DPR diberi tahu,”pungkasnya.

Dukungan Blogger

Kerja sama Indonesia-Korsel ini ternyata sudah sampai ke telinga para blogger sista (sistem pertahanan), Facebookerdan menjadi perbincangan hangat di Kaskus. Berdasarkan penelusuran harian Seputar Indonesia hingga sore kemarin,sudah ada akun Facebook dengan nama Dukung RI Produksi Pesawat Tempur Ini.Tampilan depan akun menunjukkan dua buah pesawat kuno yang mengudara dengan tiga foto pahlawan di atasnya.Adapun tagline yang ditampilkan adalah “Indonesia harus mampu produksi pesawat tempur”.

Salah seorang anggota bernama Anggih Romadhon menulis statusnya dalam laman tersebut terkait kerja sama ini: “Alhamdulillah akhirnya kerja sama Indonesia-Korsel buat produksi pesawat tempur jadi juga. Bukan sekadar wacana-wacana kosong belaka. Hidup Indonesia!”.

SINDO


 

KFX201 
Like several other aircraft I've made 3-view drawings of, the KFX201 is a real-life projected aircraft design. Unlike the others, however, *this* project is still on-going, and could potentially produce a flyable aircraft!

The KFX project officially began in 2001, in order to meet a ROKAF requirement for a 5th-Generation Air Superiority Fighter. The F-22A Raptor was actually ROKAF's first choice, but the US government was (and remains) willy-nilly about the prospect of exporting F-22 technology abroad, so this wasn't an option for South Korea.

If they really DO build this thing, and ultimately offer it on the export market, it'll be a major competitor for (and universally better deal than) the F-35 --- and a gigantic humiliation for Lockheed-Martin and Congress.

The KFX201 was one of two different potential layouts for the KFX (the other being the KFX202, which is a dead-ringer for the F-22A). So far, the '201 is the most-publicized of the two, so it will probably be the winning design.


Here's the performance data of a *possible* configuration for the KFX201;

============ KFX201 Data ============
©2010 Blacktail

Role: Air Superiority Fighter
Unit Price: US$41 Million
Crew: 1
Size(LxWxH): 54x41x15ft
Wing Area: 540ft2
Empty Weight: ~30000lbs
Internal Fuel: ~20000lbs
Payload: ~20000lbs
Max. T/O Weight: 80000lbs
Wing Loading: 55.55lb/ft2
T/W Ratio: 1.86
Fuel Fraction: 0.66
Range: 1180nm
Ceiling: 60000ft
Cruise Speed: Mach 1.4
Top Speed: Mach 1.6
Climb Rate: 50000ft/min
Initial Turn Rate: 35 degrees/sec
Continuous Turn Rate: 20 degrees/sec
Max. G-Load: +9/-3
Sensors: EL/M-2052 AESA Radar
Scan Range: 200nm@45 degrees
Look Down: Yes
Shoot Down: Yes
Propulsion: 2x F110-GE-100 Turbofans w/ 35060lbs/military thrust, 56000lbs/AB
Thrust Vectoring: Yes (2D, differential, +/- 30 degrees)
Weapon Stations: 1x 20mm M61A2 w/500rds, 2s Internal Bay w/500lb Capacity, 1x Internal Bay w/10000lb Capacity, 2x Underwing Hardpoint w/5000lb Capacity, 2x Underwing Hardpoint w/2000lb Capacity, 2x Underwing Hardpoint w/500lb Capacity
ECMs: Chaff/Flare launchers (30/30), Tactical Jammer
FBW: Yes (Fiber-Optic)
RCS: Less than 1ft3
Stealth: Yes
Tailhook: No
Catapult Hitch: No
Drag Chute: No
AAR: Yes (Receptacle)
Other: All-moving canards, LCD 3-Screen MFD, 3D HUD, Single-piece polyeurothane canopy, HOTAS, Contoured Seat, Zero-Zero ejection seat, Voice-Command System, Digital Datalink

http://blacktailfa.deviantart.com/art/KFX201-183945848

Jubir TNI AU : Indonesia Ikut Dalam Pemasaran KFX

Metrotvnews.com, Jakarta: Juru bicara TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Bambang Samoedro menegaskan Indonesia dan Korea Selatan sepakat memperkuat kerja sama di masa mendatang. Menurut Bambang, kerja sama tersebut dikhususkan pada angkatan udara.

Diakui Samoedro, kesepakatan dibicarakan di Jakarta, Senin (1/11). Pertemuan melibatkan Kepala Staf AU Marsekal Imam Sufaat dengan Atase Pertahanan Korea Selatan Kolonel Moon Daecheol. Sebenarnya kerja sama militer antara kedua negara berjalan baik sejak lama.

Sebelumnya Indonesia sepakat bergabung dalam proyel pengembangan Jet Tempur KF-X, Korea Selatan. Namun tertunda beberapa tahun akibat masalah teknis dan pendanaan. Pun kedua negara sepakat bekerja sama dalam produksi dan pemasaran jet tempur.

"Indonesia akan memperoleh sekitar 50 jet tempur KF-X dengan menanggung 20 persen biaya pengembangan proyek bernilai miliaran dolar AS itu," ujar Kementerian Pertahanan Korsel dalam rilisnya.

Kelak produksi jet-jet tempur dilakukan setelah studi kelayakan rampung, akhir 2012. Selain itu, menurut Asisten Perencanaan KSAU Marsekal Muda Ery Biatmoko, pesawat jet tempur KF-X akan memperkuat skuadron tempur TNI Angkatan Udara. Tujuannya tak lain mengamankan seluruh wilayah udara nasional.

Sumber: METRO NEWS

8 komentar:

  1. Baguuuuuuuus..moderenisasi terus alutsista Indonesia!! siap-siap ganyang Malingsia!!

    BalasHapus
  2. walau telat tp oke lah.......tak ada rotan kayu albasia juga boleh he heeeee

    BalasHapus
  3. mantap bgt, gw bangga bgt sbagi bangsa Indonesia...ini membuktikan tonggak sejarah kbangkitan TNI

    BalasHapus
  4. setuju jngan dengar ocehan anggota dewan yg cari muka

    BalasHapus
  5. dulu IPTN sudah punya design N2130 & protoype N250 serta sudah banyak negara lain yang pesan. Saat itu selain karena krisis moneter dan krn tekanan IMF program tersebut berhenti karena juga tentangan para pengamat yang mengatakan program tersebut hanya akan menjadi "mainannya" Habibie.. Sekarang yang berjaya adalah Embraer (Brazil), Bombardier (Kanada), dll. Seandainya program tersebut berjalan, tentu PTDI sekarang akan berjaya, karena Garuda tentu tidak perlu membuang uang +- 33T untuk memesan 100 pesawat baru dari produsen negara lain... Sungguh ironis & harus diambil hikmah dari pengalaman ini. Sukurlah sekarang PTDI mulai bangkit, & pak Habibie mulai turun gunung untuk menghidupkan kembali program tersebut. Semoga beliau & team dianugerahi panjang umur, kesehatan, dukungan dan kemudahan untuk merealisasikannya.. Amiin YRA...

    BalasHapus
  6. Semoga kerja sama ini menjadi kenyataan, dan Dimasa mendatang indonesia sudah dapat membuat pesawat yang lebih canggih lagi. Tidak tergantung dengan negara lain...Amin....Amin..1000X

    BalasHapus
  7. Kalau bisa PT DI membuat pesawat tempur dg mesin tunggal, oleh karena kesulitannya agak berkurang bila dibanding dg mesin ganda dan PT DI pernah merakit pesawat latih dr korea selatan T-50. Jadi saya beranggapan PT DI sanggup membuatnya, hrs dilaksanakan sendiri oleh PT DI dan evaluasinya kan dpt dibuka utk masyarakat.

    BalasHapus